PERUBAHAN HIDUP DENGAN SETOIKISME
- Diposting Oleh Admin Web PBA
- Senin, 18 Mei 2026
- Dilihat 88 Kali
Oleh: Khoiriyatul Muaddimah
(Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Semester II)
Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, banyak orang mudah merasa cemas, marah, dan kehilangan arah. Tekanan dari lingkungan, media sosial, hingga tuntutan pribadi sering kali membuat pikiran kita tidak tenang. Dalam kondisi seperti ini, kita membutuhkan cara pandang yang mampu membantu kita tetap stabil. Salah satu pendekatan yang relevan adalah filsafat setoikisme.
Stoikisme mengajarkan bahwa tidak semua hal dalam hidup berada dalam kendali kita. Ada hal-hal yang memang bisa kita usahakan, seperti sikap, pikiran, dan tindakan. Namun, ada juga hal yang berada di luar kendali, seperti penilaian orang lain, masa lalu, atau kejadian yang tidak terduga. Dalam sebuah bacaan tentang stoikisme, saya menemukan kutipan dari Marcus Aurelius yang mengatakan, “Kamu memiliki kendali atas pikiranmu, bukan kejadian-kejadian di luar sana. Sadari ini, dan kamu akan menemukan kekuatan.” Kutipan ini memperjelas bahwa kekuatan sejati berasal dari dalam diri kita, bukan dari situasi di luar.
Dalam pengalaman saya, ketika merasa stres, saya pernah mencoba menuliskan hal-hal yang saya syukuri dalam hidup. Dari kebiasaan sederhana tersebut, perlahan cara pandang saya mulai berubah. Saya menjadi lebih fokus pada hal-hal positif dibandingkan hal-hal yang membuat ku cemas. Rasa syukur ini ternyata tidak hanya membantu mengurangi stres, tetapi juga membuat pikiran ku lebih tenang sehingga kualitas tidur pun ikut membaik. Hal ini sejalan dengan ajaran stoikisme yang menekankan pentingnya mengelola pikiran dan menerima keadaan dengan bijak.
Penerapan stoikisme dalam kehidupan sehari-hari dapat membawa perubahan yang signifikan. Misalnya, ketika menghadapi kritik, kita tidak langsung tersinggung, tetapi mencoba mengambil sisi positifnya. Ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, kita tidak larut dalam kekecewaan, melainkan mencari solusi terbaik. Sikap seperti ini perlahan membentuk pribadi yang lebih kuat dan dewasa dalam menghadapi berbagai situasi.
Namun, stoikisme bukan berarti menahan semua emosi atau menjadi tidak peduli. Justru, stoikisme mengajarkan keseimbangan bagaimana kita tetap merasakan emosi, tetapi tidak dikendalikan olehnya. Dengan demikian, kita bisa mengambil keputusan secara lebih bijak dan tidak terburu-buru.
Pada akhirnya, perubahan hidup tidak selalu datang dari hal besar, tetapi dari cara kita memandang sesuatu dan juga dalam merespons kehidupan sehari-hari. Stoikisme menjadi salah satu jalan untuk membentuk ketenangan batin dan keteguhan sikap. Dengan menerapkannya secara perlahan, kita dapat menjalani hidup dengan lebih sadar, lebih kuat, dan lebih bijaksana.
“Jangan biarkan peristiwa eksternal menghancurkan kedamaian dalam diri Anda . kebahagiaan berasal dari bagaimana kita merespons apa yang kita terjadi di dunia, bukan dari dunia itu sendiri.”
-Epictetus-