Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 85655868145

Email

pba@iainmadura.ac.id

Syawal di Era Digital: Antara Tradisi Ketupat dan Tantangan Belajar Mahasiswa

  • Diposting Oleh Admin Web PBA
  • Jumat, 27 Maret 2026
  • Dilihat 22 Kali
Bagikan ke

Oleh: Hesti Firdausi Mahdaf

(Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Semester IV)

Setelah melewati bulan Ramadan, suasana Syawal biasanya terasa lebih ringan dan membahagiakan. Namun, di Madura, Syawal tidak hanya berhenti pada hari Idul Fitri. Masih ada tradisi yang terus dijaga hingga saat ini, yaitu Tellasan Topa’ atau hari raya ketupat yang dirayakan sekitar tujuh hari setelah lebaran.

Pada momen tersebut, masyarakat kembali memasak ketupat lengkap dengan berbagai lauk, lalu saling berkunjung ke rumah keluarga dan tetangga. Suasananya memang mirip seperti lebaran, tetapi lebih sederhana. Justru dari kesederhanaan itulah kebersamaan terasa lebih dekat dan hangat.

Jika direnungkan, ketupat juga memiliki makna simbolis. Bungkusnya yang rumit dan isinya yang bersih dapat dimaknai sebagai gambaran manusia. Setelah Ramadan, seharusnya hati menjadi lebih bersih dan kehidupan lebih terarah.

Namun, suasana kebersamaan itu kini mulai mengalami perubahan. Dalam momen berkumpul, tidak jarang setiap orang justru sibuk dengan handphone masing-masing. Tanpa disadari, kebersamaan yang seharusnya terasa hangat menjadi berkurang.

Bagi mahasiswa, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri. Di satu sisi, ada keinginan untuk menikmati momen bersama keluarga, terlebih dalam tradisi seperti Tellasan Topa’. Di sisi lain, tanggung jawab akademik tetap menuntut untuk diselesaikan. Tidak jarang, kebersamaan justru diiringi dengan pikiran tentang tugas yang belum rampung.

Jika tidak disikapi dengan bijak, situasi ini dapat membuat keduanya tidak berjalan optimal. Momen kebersamaan terlewat, sementara kewajiban pun tertunda. Disamping itu yang perlu kita jaga dan lestarikan Adalah budaya Silaturrahim. Kita hendaknya saling menjaga Silaturrahim agar kasih sayang Allah akan selalu kita dapatkan. Sebagaimana Hadist Nabi Muhammad SAW تَصَافَحُوا تَحَابُّوا yang artinya “Raihlah kasih sayang dan silaturrahim, niscaya Allah akan menyayangi kalian.” (HR. Malik)

Oleh karena itu, diperlukan kesadaran untuk menempatkan sesuatu pada waktunya. Momen kebersamaan sebaiknya benar-benar dimanfaatkan dengan hadir secara utuh, tanpa terganggu oleh penggunaan teknologi yang berlebihan. Di sisi lain, tanggung jawab akademik tetap perlu dikelola dengan baik melalui pengaturan waktu yang lebih disiplin.

Dengan demikian, tradisi seperti Tellasan Topa’ tetap dapat dijaga, tanpa harus mengorbankan kewajiban sebagai mahasiswa. Syawal pun tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga menjadi titik awal untuk memperbaiki diri mulai dari hal sederhana, seperti lebih bijak menggunakan waktu dan teknologi, serta lebih menghargai setiap momen kebersamaan.