Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 85655868145

Email

pba@iainmadura.ac.id

Lebaran Versi Gen Z: Antara FOMO Baju Baru, Berkah THR, dan Healing Hati

  • Diposting Oleh Admin Web PBA
  • Rabu, 25 Maret 2026
  • Dilihat 29 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dewi Halimah

(Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Semester II)

Lebaran adalah momen yang sangat di nantikan oleh seluruh umat muslim setelah satu bulan penuh melaksanakan ibadah puasa. Lebaran atau yang sering disebut hari kemenangan umat Islam ini hanya terjadi dua kali dalam setahun, yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Hari kemenangan ini dirayakan dengan penuh kebahagiaan. Rumah-rumah dihias, hidangan khas disiapkan, dan orang-orang mengenakan pakaian terbaik mereka untuk merayakan hari yang istimewa ini. Bagi generasi sekarang, suasana ini juga semakin terasa melalui media sosial, di mana momen Lebaran dibagikan dan dirayakan bersama secara digital.

Bagi sebagian orang, Lebaran sering kali identik dengan baju baru. Tradisi membeli pakaian baru seolah sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan tersebut. Bahkan mayoritas orang merasa kurang lengkap merayakan Lebaran jika tidak mengenakan pakaian baru yang indah dan rapi. Dalam sudut pandang Gen Z, fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out), di mana seseorang merasa harus mengikuti tren agar tidak tertinggal, termasuk dalam hal penampilan saat Lebaran.

Selain baju baru, Lebaran juga identik dengan THR (Tunjangan Hari Raya) yang menjadi salah satu hal yang paling dinanti, khususnya oleh anak muda. THR bukan hanya sekadar uang, tetapi juga simbol kebahagiaan dan bentuk perhatian dari keluarga. Banyak yang memanfaatkannya untuk membeli kebutuhan, berbagi dengan sesama, atau bahkan sekadar menikmati momen “healing” setelah menjalani aktivitas dan rutinitas yang padat.

Namun, jika dipahami lebih dalam, makna Lebaran tidak hanya terletak pada hal-hal yang bersifat lahiriah seperti harus memakai pakaian baru atau mengikuti tren. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ustadz Hilman Fauzi dalam tausiyahnya, “لَيْسَ العِيْدُ بِمَلَابِسِ الجَدِيْدِ وَلَكِنَّ العِيْدَ بِقَلْبِ الجَدِيْدِ” (Lebaran itu bukan tentang baju yang baru, tetapi tentang hati yang baru). Sucikan hatimu, bersihkan dirimu, belajar memaafkan jika disakiti, dan belajar meminta maaf jika menyakiti.” Dari penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa sejatinya Lebaran merupakan simbol kemenangan setelah seseorang berhasil menahan diri dari berbagai godaan selama bulan Ramadan, bukan hanya tentang memakai baju baru. Kemenangan ini seharusnya tercermin dari perubahan sikap dan perilaku yang menjadi lebih baik—sebuah proses “healing hati” yang sesungguhnya.

Umat Islam memang dianjurkan memakai pakaian terbaik. Ada salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hasan bin Ali RA berkata, “Rasulullah ﷺ telah memerintahkan kami pada dua hari raya agar memakai pakaian terbaik yang kami temukan.” (HR. Al-Baihaqi dan Al-Hakim). Maksud dari memakai pakaian terbaik bukan berarti harus memakai pakaian baru, akan tetapi berpenampilan baik dan rapi sebagai tanda kebahagiaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap hari yang agung, bukan untuk berlebih-lebihan atau sekadar pamer penampilan.

Lebaran juga tidak lepas dari rasa rindu. Rindu pada keluarga yang jauh, rindu pada suasana kebersamaan di rumah, bahkan rindu pada mereka yang sudah tidak lagi bersama. Momen ini sering kali menjadi waktu pulang, berkumpul, dan mengulang kenangan. Di tengah gemerlapnya baju baru dan kebahagiaan menerima THR, ada sisi emosional yang membuat Lebaran terasa lebih dalam yaitu kerinduan yang terobati melalui pertemuan dan kebersamaan.

Lebaran menjadi momen penting untuk mempererat tali silaturahmi. Pada hari tersebut, keluarga, kerabat, dan tetangga saling mengunjungi dan bermaafan. Lebaran juga mengingatkan kita untuk lebih peduli terhadap sesama. Banyak orang yang memanfaatkan momen ini untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa makna Lebaran tidak hanya tentang kebahagiaan pribadi, tetapi juga tentang bagaimana kebahagiaan itu dapat dirasakan bersama.

Oleh karena itu, sudah seharusnya kita memaknai Lebaran dengan cara yang lebih mendalam. Baju baru dan euforia (rasa bahagia) sesaat memang dapat menambah keceriaan, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana hati kita juga menjadi “baru” dengan penuh keikhlasan, kesabaran, dan rasa syukur. Lebaran bukan hanya tentang FOMO, bukan sekadar THR, dan bukan hanya tentang penampilan, tetapi tentang bagaimana kita kembali menjadi pribadi yang lebih baik.

Dengan demikian, Lebaran bukan sekadar perayaan yang dipenuhi dengan simbol-simbol lahiriah. Lebaran adalah momen untuk membersihkan hati, memperbaiki diri, menyembuhkan luka batin, dan memperkuat hubungan dengan sesama. Lebaran menjadi akhir dari ibadah puasa kita, lantas apa yang kita dapatkan dari ibadah kita selama satu bulan itu: “Baju Baru atau Hati yang Baru?”