Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 85655868145

Email

pba@iainmadura.ac.id

Tirai Dibalik Lailatul Qadar Bagi Manusia

  • Diposting Oleh Admin Web PBA
  • Selasa, 17 Maret 2026
  • Dilihat 76 Kali
Bagikan ke

Oleh: Alya Raihana Sari

(Mahasiswa PBA Semester IV)

Malam Lailatul Qadar merupakan salah satu malam paling istimewa yang sangat dinantikan oleh umat muslim di seluruh dunia. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa malam ini lebih baik daripada seribu bulan, sehingga menjadi kesempatan yang sangat berharga bagi setiap muslim untuk memperbanyak ibadah dan meraih pahala yang berlipat ganda. Namun, pertanyaannya adalah, apakah kita akan memanfaatkan kesempatan langka yang hanya datang sekali dalam setahun ini, atau justru menyia-nyiakannya begitu saja?

Menariknya, waktu pasti datangnya Lailatul Qadar masih menjadi misteri dan hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Banyak ulama menyebutkan bahwa malam tersebut berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil 21,23,25,27,29 ramadhan. Kerahasiaan ini justru mendorong umat muslim untuk semakin giat beribadah dan berlomba dalam kebaikan. Bahkan, tidak sedikit anak muda yang menunjukkan antusiasme dengan mengisi malam-malam tersebut melalui berbagai kegiatan positif demi meraih keutamaan malam yang penuh berkah ini.

Banyak umat muslim berusaha memaksimalkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan meningkatkan kualitas ibadah. Berbagai amalan seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa dan berdzikir dilakukan dengan harapan dapat meraih keberkahan malam Lailatul Qadar. Adapun dzikir yang biasa dipanjatkan di 10 malam terakhir yakni bacaan اللَّهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّكَرِيمٌ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى dimana orang yang membaca dzikir tersebut akan diampuni dosa sekarang dan yang akan datang. Kesadaran ini menunjukkan bahwa malam tersebut menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk memperbaiki diri serta memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Semangat mencari Lailatul Qadar juga mendorong umat muslim untuk lebih konsisten dalam berbuat kebaikan. Tidak hanya ibadah pribadi, tetapi juga kepedulian sosial seperti berbagi kepada sesama, mempererat silaturahmi, dan membantu mereka yang membutuhkan. Dengan demikian, nilai-nilai yang terkandung dalam Ramadhan tidak hanya dirasakan secara individu, tetapi juga membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Keutamaan malam Lailatul Qadar ditegaskan dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Qadr ayat 3: “لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ” yang berarti malam Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Ayat ini menunjukkan betapa besar pahala dan keberkahan yang diberikan Allah SWT pada malam tersebut. Oleh karena itu, umat muslim dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah agar tidak melewatkan kesempatan yang sangat mulia ini.

Di era sekarang, antusiasme terhadap malam Lailatul Qadar juga terlihat dari berbagai kegiatan yang dilakukan oleh generasi muda. Banyak di antara mereka yang mengikuti kajian, i’tikaf di masjid, serta mengadakan kegiatan keagamaan bersama. Hal ini menjadi tanda bahwa nilai-nilai spiritual masih memiliki tempat penting dalam kehidupan mereka.

Oleh karena itu, marilah kita kencangkan niat dan fokus beribadah demi menjemput kemuliaan Lailatul Qadar sebelum bulan suci ini berlalu meninggalkan kita.

Lalu,

Apa saja dibalik tirai lailatul Qadar? Lailatul Qadar merupakan momen yang paling dinantikan di bulan Ramadan, sering kali disebut sebagai "malam yang lebih baik dari seribu bulan." Secara esensial, malam ini bukan sekadar peristiwa kronologis dalam kalender, melainkan simbol dari kasih sayang dan peluang spiritual yang luar biasa bagi setiap Muslim.

1. Malam Transformasi Diri

Lailatul Qadar sering dianggap sebagai titik balik. Jika seribu bulan setara dengan sekitar 83 tahun—rentang waktu rata-rata usia manusia—maka beribadah di malam ini seolah-olah merangkum seluruh kebaikan seumur hidup dalam satu malam. Ini adalah kesempatan bagi siapa pun untuk "menyetel ulang" niat dan arah hidupnya.

2. Keindahan dalam Ketidakpastian

Satu aspek yang menarik adalah "dirahasiakannya" tanggal pasti malam tersebut. Hal ini mengandung filosofi yang dalam: Pertama, Konsistensi: Agar umat tidak hanya beribadah pada satu malam saja, melainkan menjaga ritme ibadah sepanjang sepuluh hari terakhir. Kedua, Keseriusan: Ketidakpastian ini menguji sejauh mana kerinduan dan kesungguhan seseorang dalam mencari rida Tuhan.

3. Dimensi Sosial dan Kedamaian

Al-Qur'an menyebutkan bahwa pada malam itu "sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar." Ini bukan hanya tentang ritual pribadi, tetapi juga tentang penyebaran kedamaian. Opini yang kuat adalah bahwa semangat Lailatul Qadar seharusnya tercermin pada sikap seseorang setelah Ramadan: menjadi pribadi yang lebih tenang, pemaaf, dan bermanfaat bagi sesama