Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 85655868145

Email

pba@iainmadura.ac.id

Tertunda bukan gagal: ketika stigma kalah oleh ikhtiar

  • Diposting Oleh Admin Web PBA
  • Senin, 17 Agustus 2026
  • Dilihat 21 Kali
Bagikan ke

Orang sering bertanya: "Anak desa bisa apa?" 

Saya jawab dalam hati: "Bisa. Asal mau mulai."

Nama saya Naqiah. Saya anak kedua dari empat bersaudara, lahir 8 Agustus 2004 di Desa Candi Dungkek, Sumenep. Besar di pondok.Tk sampai SMP di Nasy’atul Muta’allimin, SMA di Pesantren Nurul Karomah, Buddagan, Pamekasan.

Dulu, kuliah itu barang mewah. Di rumah, keputusannya tegas: "Cukup mondok. Kuliah tidak usah." Keluarga takut. Takut anak perempuan terjerumus. Takut stigma "anak kuliah" itu benar.

Saya tidak marah. Saya hanya punya satu kalimat: "Beri saya kesempatan membuktikan bahwa tidak semua anak kuliah seperti itu."

Alhamdulillah, dengan dukungan penuh dari pihak pesantren dan syarat harus tetap tinggal di pondok, saya diizinkan masuk Prodi Pendidikan Bahasa Arab UIN Madura.

Awalnya saya kira kuliah itu seperti kursus DASA. Datang, catat, pulang. Ternyata salah besar. 

Hari pertama masuk kelas, saya minder setengah mati. Teman-teman saya lulusan pesantren besar. Nahwu shorofnya lancar. Muhadatsahnya fasih. Saya? Nol. Bahasa Arab saya masih belepotan. Nilai saya turun. Mental saya jatuh.

Di titik itu saya punya 2 pilihan: menyerah, atau cari jalan lain.

Saya pilih jalan lain. 

Saya tidak mulai dari kitab. Saya mulai dari suara. 
Saya ikut lomba public speaking. Awalnya kalah. Gugup. Script belepotan. Tapi saya terus maju. Dari lomba kampus, ke tingkat Jawa Timur, sampai akhirnya Allah izinkan saya berdiri di Gedung DPR RI, Jakarta.

Dari panggung itulah saya belajar: kalau saya tidak bisa paling pintar di kelas, saya harus paling berani bersuara.

Keberanian bersuara itu menyeret saya ke jalan kedua: menulis. 
Saya mulai kirim artikel. Ditolak. Revisi. Kirim lagi. Sampai akhirnya Alhamdulillah, artikel saya tembus jurnal terakreditasi SINTA. 

Dari menulis, pintu lain terbuka. Dosen percaya saya untuk riset bareng. Saya dipercaya jadi Tutor  fiill in FLDP, asisten dosen, dan mentor kepenulisan research di prodi. Anak yang dulu paling tertinggal, sekarang diminta ngajarin.

Lalu datang ujian yang mengubah segalanya: Beasiswa ke 3 Negara

Awalnya saya hanya iseng daftar. "Coba-coba aja," pikir saya. Saingannya 200 orang se-Indonesia. Mahasiswa PTN, PTS, santri dari berbagai pondok besar. Saya? Anak PBA dari Sumenep yang bahasa Arabnya baru belajar.

Tahap seleksi panjang. Ada administrasi, paper, wawancara, dan presentasi. Sering takut dan ragu: "Apa aku pantas?"

Tapi saya ingat pesan Kyai: "Ikhtiar dulu. Urusan hasil sama Allah."

Alhamdulillah. Pengumuman datang. Nama saya ada. Saya masuk 4 besar dan penerima Beasiswa Partial Funded. 

Keberangkatan itu bukan hanya jalan-jalan. Di Malaysia, saya harus debat, diskusi dan presentasi di depan juri. Tangan gemetar, tapi saya maju. 

Dari 60 delegasi terpilih, Allah titipkan amanah: saya dianugerahi Top 3 Best Speaker di Malaysia, 8 Agustus 2026.

Saya melamun di perjalanan. Bukan karena pialanya. Tapi karena ingat: 4 tahun lalu saya dilarang kuliah. Ingat ibu yang tiap malam doa di sajadah. Ingat dosen PBA yang sabar ngajari saya dari nol.

Saya sadar. Ternyata Allah tidak salah alamat menitipkan rezeki. Anak Candi Dungkek yang dulu minder, hari ini bisa bawa nama keluarga, pondok, dan almamater di 3 negara.

Jujur, saya merasa paling kecil di antara mereka. Tapi saya datang dengan satu bekal: niat belajar. Dan hasilnya saya pasrahkan.

Untuk adik-adik PBA yang baca ini: 
Jangan biarkan kata "anak desa" dan "anak pondok" jadi penghalang. Jadikan itu bahan bakar. 

Meski seratus kali jatuh, bangkitlah di kali seratus satu. 
Karena siapa tahu, dari satu langkah nekatmu hari ini, Allah sedang menyiapkan panggung besar untukmu. 

PBA bukan sekadar jurusan. PBA adalah keluarga yang telah memupuk tanaman kecil ini hingga bisa berbuah.