Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 85655868145

Email

pba@iainmadura.ac.id

Kuliah: Pilihan atau Sekadar Ikut Arus?

  • Diposting Oleh Admin Web PBA
  • Senin, 20 April 2026
  • Dilihat 48 Kali
Bagikan ke

Oleh: Moh. Romzi

(Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab semester IV)

Tidak semua mahasiswa duduk di bangku kuliah karena pilihan sadar. Sebagian dari mereka hadir karena dorongan orang tua, tekanan lingkungan, atau sekadar mengikuti alur yang dianggap “normal”. Saya adalah salah satunya.

Sebagai salah satu mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Madura, saya tidak pernah benar-benar berencana untuk kuliah. Pilihan awal saya sederhana, yaitu bekerja dan mendapatkan penghasilan. Namun, realita berkata lain. Kuliah menjadi jalan yang harus ditempuh, bukan yang dipilih.

Fenomena ini bukan hanya terjadi pada saya. Banyak mahasiswa menjalani perkuliahan tanpa arah yang jelas. Mereka hadir di kelas, mengerjakan tugas, dan mengejar nilai, tetapi tidak benar-benar memahami tujuan dari apa yang mereka lakukan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melahirkan generasi yang “berpendidikan secara formal”, tetapi kehilangan arah secara personal.

Dalam perspektif literatur, fenomena ini dapat dikaitkan dengan pemikiran Frankl dalam bukunya Man’s Search for Meaning. Frankl menekankan bahwa manusia membutuhkan makna dalam setiap tindakan yang dijalani. Tanpa makna, seseorang akan mudah mengalami kehampaan eksistensial (existential vacuum). Dalam konteks pendidikan, kuliah tanpa tujuan yang jelas dapat menjadi bentuk nyata dari kehampaan tersebut.

Selain itu, pemikiran  dalam Pedagogy of the Oppressed juga relevan. Freire mengkritik sistem pendidikan yang hanya menjadikan mahasiswa sebagai “wadah kosong” yang diisi informasi, tanpa mendorong kesadaran kritis. Ketika mahasiswa tidak memiliki kesadaran atas pilihannya sendiri, pendidikan berubah menjadi rutinitas, bukan proses pembebasan.

Dari pengalaman pribadi, saya mulai menyadari bahwa masalah utamanya bukan pada pilihan kuliah atau bekerja, tetapi pada ketidaksadaran dalam mengambil keputusan. Mengikuti arus tanpa refleksi hanya akan memperpanjang kebingungan. Kuliah akhirnya menjadi sekadar aktivitas, bukan investasi masa depan.

Kesimpulannya, kehilangan arah dalam perkuliahan bukan sekadar masalah individu, tetapi juga persoalan kesadaran. Mahasiswa perlu berani mempertanyakan: “Apakah saya benar-benar memilih jalan ini, atau hanya menjalaninya?” Tanpa pertanyaan tersebut, pendidikan berisiko kehilangan esensinya sebagai proses pembentukan makna dan tujuan hidup.