Ramadhan : Bukan sekedar ajang menahan lapar, tapi momentum asah diri & jaga Hati
- Diposting Oleh Admin Web PBA
- Sabtu, 7 Maret 2026
- Dilihat 77 Kali
Oleh: Nur Idayatul Arafah
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Semester VI
Bulan Ramadhan bulan penuh agung. Pada momentum Ramadhan, Allah turunkan rahmat, maghfirah, dan peleburan dari api neraka bagi hambanya. Lalu, apa yang harus kita refleksikan sebagai wujud dari status hamba di bulan puasa ini? Sekedar nahan lapar atau dahagakah?.
Ramadhan sering kali di pahami sebatas bulan menahan lapar dan dahaga mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Padahal, jika kita renungkan lebih mendalam, Ramadhan adalah momentum besar untuk merevolusi diri. Ia hadir bukan hanya sekedar rutinitas tahunan, melainkan sebagai madrasah spiritual yang melatih kesabaran, kejujuran, ketahanan diri dari melakukan hal yang merusak keagungan bulan puasa itu sendiri.
Di bulan ini kita di ajak untuk memperlambat ritme kehidupan yang super cepat. Saat orang lain tidak mengetahui apakah kita benar- benar berpuasa atau tidak, di situlah nilai kejujuran di uji. Ramadhan mendidik kita untuk merasa di awasi bukan oleh manusia, tetapi oleh sang pencipta. Nilai intelektual inilah yang seharusnya kita Yakini dan kita jaga di dalam lubuk hati kita yang terdalam.
Selain itu, Ramadhan memberikan kita ruang untuk memunasabah diri dan meningkatkan nilai empati sosia, karena rasa lapar dan dahaga yang kita rasakan menjadi pengingat diri bahwa di luar sana masih banyak orang yang merasakan hal serupa karena keterbatasan ekonomi di dalam kehidupannya.
Sayangnya Sebagian dari kita hanya sekedar melakukan ibadah puasa tanpa mencari lebih mendalam mengenai makna apa itu bulan Ramadhan yang sesungguhnya dan apa yang ada di baliknya. Bahkan, hal yang sangat di sayangkan pula adalah Ketika kita melakukan ibadah puasa hanya di jadikan formalitas terutama di media social, maka hilanglah kesempatan yang begitu besar untuk menjadikan diri lebih baik, karena tujuannya tidak lagi demi cinta sang pencipta, melainkan ingin di sanjung oleh manusia yang mana hal itu akan menjadi sebuah Kesia-siaan yang nyata.
Oleh sebab itulah, bulan Ramadhan ini juga mengingtkan kita bahwa tuhan tak pernah membeda-bedakan makhluknya yang ingin berbuat kebaikan selama tujuannya adalah karena cinta dan rindho NYA. Maka hilanglah semua jabatan dan pangkat duniawi yang tersisa hanyalah tingkat keimanan dan ketaqwaan.
Maka di bulan inilah menjadi ruang terbaik bagi kita untuk mendapatkan cintanya. Waktu yang bahkan tidurpun dinilai ibadah oleh tuhan, apalagi jika yang kita lakukan adalah kebaikan maka Adapun pahala yang Allah SWT berikan di lipat gandakan. Sehingga Ramadhan bukan sekedar menahan lapar melainkan juga menahan diri dari, mengasar diri dari hawa nafsu yang selalu menjadi musuh yang sebenarnya bagi umat manusia itu sendiri.
Diantara cara terbaik untuk memeranginya adalah mengetahui secara mendalam apa itu ramadhan yang sesungguhnya, termasuk ada apa di baliknya sehingga menjadikannya bulan yang paling istimewa di bandingkan bulan yang lainnya.
Setelah itu, langkah selanjutnya adalah dengan memaksimalkan hari demi hari dan waktu demi waktu di dalamnya dengan penuh kebaikan terutama ibadah qiyamul lail sebagaimana perkataan ulama’ bahwa:” رمضان شهر الصيام والقيام “.
Maka dengan kesadaran ini sangat di harapkan bagi kita semua agar menjadikan bulan Ramadhan menjadi ruang dan waktu terbaik untuk menjadikan hati dan diri lebih baik terutama agar lebih di cintai oleh sang pencipta dan tentu hal ini lah yg harus kita jaga hingga 11 bulan setelahnya.