Bahasa Sebagai Diplomasi Kemanusiaan: Sinergi PBA UIN Madura dan Donatur Timur Tengah Wujudkan Akses Air Bersih di Madura
- Diposting Oleh Admin Web PBA
- Selasa, 27 Januari 2026
- Dilihat 44 Kali
Sampang - Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Islam Negeri (UIN) Madura melaksanakan kunjungan lapangan ke Desa Gunung Eleh, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, pada Minggu (25/1/2026). Kunjungan ini dilakukan untuk meninjau progres pengeboran sumur air bersih yang telah dimulai sejak Sabtu malam sebagai upaya membantu masyarakat yang mengalami kekeringan.
Kegiatan tersebut dipimpin oleh dosen PBA UIN Madura, Ibu Dr. Siti Maisaroh, M.Pd dan diikuti oleh 3 mahasiswa. Ibu Maisaroh juga dikenal sebagai pendiri MAI Foundation, sebuah lembaga amal yang kini telah berganti nama menjadi KAI (Khitbah Amal Insani).
KAI merupakan yayasan kemanusiaan yang bergerak dalam perencanaan dan pengelolaan kegiatan amal guna mewujudkan pembangunan bertahap di daerah-daerah miskin di Indonesia, khususnya wilayah yang mengalami krisis air bersih.
Sebelum pelaksanaan pengeboran, tim mahasiswa bersama dosen telah melakukan observasi awal pada Oktober 2025 serta survei lokasi untuk menentukan titik-titik desa yang mengalami kekeringan dan kesulitan akses air bersih. Ibu Maisaroh menjelaskan bahwa proses pengeboran dilakukan setelah melalui tahapan komunikasi dan kesepakatan dengan masyarakat setempat. Hingga saat ini, pengeboran telah mencapai kedalaman sekitar 52 meter.
“Pengeboran sumur ini merupakan bagian dari program bantuan kemanusiaan yang didukung oleh para donatur dari Timur Tengah untuk desa-desa di Madura yang terdampak kekeringan. Sumur bor tersebut nantinya akan dimanfaatkan secara umum oleh masyarakat Desa Gunung Eleh, termasuk untuk kebutuhan masjid yang berada di sekitar lokasi pengeboran,” ujarnya.
Sejak berdirinya, yayasan yang dipimpin Ibu Maisaroh tersebut telah berkontribusi dalam pengeboran sumur air bersih di 15 titik berbeda pada desa-desa yang mengalami kekeringan di wilayah Madura.
Antusiasme masyarakat terlihat dari keterlibatan langsung warga dalam membantu proses pengeboran. Salah satu warga menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya program tersebut.
“Kami sangat membutuhkan air bersih. Selama ini, warga harus membeli air dengan harga sekitar Rp300 ribu per tangki. Adanya sumur bor ini sangat membantu kami,” ungkapnya.
Ibu Maisaroh menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab dalam kegiatan ini merupakan wujud nyata peran bahasa sebagai sarana komunikasi dan diplomasi kemanusiaan.
“Bahasa Arab yang dipelajari mahasiswa tidak hanya sebagai ilmu linguistik, tetapi juga sebagai alat komunikasi global. Melalui bahasa inilah terbangun kerja sama dan solidaritas internasional untuk membantu masyarakat lokal,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa semakin terasah kepeduliannya terhadap persoalan sosial dan mampu berkontribusi langsung dalam kegiatan kemanusiaan, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat. (Naqi'ah)